January 23, 2026 by Tim Media
Departemen Matematika UGM dan FINCAPES Akan Melakukan Kajian Risiko Finansial Banjir di Pontianak Melalui Pendekatan Aktuaria

Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kontribusinya dalam penanganan risiko iklim melalui kolaborasi internasional FINCAPES (Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability). FINCAPES merupakan inisiatif responsif gender yang dipimpin University of Waterloo dan didukung pendanaan Pemerintah Kanada melalui Canada’s Indo-Pacific Strategy, dengan fokus memperkuat ketahanan banjir, mendorong solusi berbasis alam, serta memperkuat kebijakan iklim termasuk pembiayaan karbon.
Melalui tim aktuaria, UGM memulai kajian untuk menghitung kerugian dan dampak finansial banjir di Kota Pontianak agar perencanaan mitigasi dan pembangunan ke depan dapat disusun lebih terukur, berbasis risiko, dan didukung bukti yang kuat. Kajian ini merupakan kelanjutan dari kerja FINCAPES sebelumnya dalam pemodelan bahaya banjir (flood hazard modelling) dan kini diperluas untuk menjawab pertanyaan yang lebih praktis bagi pengambil kebijakan: bukan hanya “di mana banjir terjadi”, tetapi juga “berapa biaya banjir bagi kota dan warganya”, baik pada kondisi saat ini maupun di bawah skenario iklim masa depan.
Kegiatan ini ditandai dengan Kick-Off Meeting yang dibuka secara resmi oleh Wali Kota Pontianak, Ir. Edi Rusdi Kamtono, pada 15 Januari 2026, sekaligus menjadi awal pelaksanaan studi aktuaria untuk menghitung loss and damage akibat banjir. Dalam pernyataan yang disampaikan pada rangkaian kegiatan tersebut, Wali Kota menegaskan bahwa Pontianak merupakan kota dataran rendah yang dipengaruhi dinamika pasang-surut, curah hujan, dan penurunan muka tanah, sehingga risiko banjir cenderung meningkat. Pada Januari, beberapa wilayah dilaporkan mengalami banjir rob hingga dua kali, dengan ketinggian air mendekati dua meter; di sejumlah titik sepanjang Sungai Kapuas, air laut dapat masuk ke rumah warga, memicu kerusakan material, dan pada kondisi tertentu memaksa evakuasi, bahkan banjir dapat berulang keesokan harinya dan bertahan selama empat hingga lima hari berturut-turut.



